UAS GENAP TAHUN AKADEMIK 2023/2024
1.
2.
3.
Smart village alias desa cerdas merupakan inisiasi Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (KDPDTT). Program ini adalah kerangka kerja membangun tanggung jawab, peran, serta akuntabilitas otoritas pengambil keputusan agar lebih efisien dan efektif, dengan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi.
Program desa cerdas bukan sekadar digitalisasi, tetapi juga berkaitan dengan infrastruktur, mobilitas warga, lingkungan, tata kelola Pemdes, kualitas hidup warga, ekonomi warga, serta inovasi dan keterampilan warga. Apa saja sebenarnya yang dibutuhkan untuk mewujudkan desa cerdas ke seluruh pelosok Negeri?
Smart village adalah program yang dilandasi oleh peningkatan tren penggunaan telekomunikasi (TIK) dan teknologi informasi. Program ini mengadopsi konsep smart city atau kota cerdas dan dibangun di atas desa yang mandiri, dengan aset dan kekuatan masyarakat pedesaan terkait.
Jadi, warga desa akan diberi bimbingan untuk bisa mengembangkan berbagai potensi dan peluang baru menggunakan pemanfaatan TIK, inovasi, teknologi digital, serta pemanfaatan ilmu yang jauh lebih baik.
Kemajuan teknologi nantinya akan dimanfaatkan untuk pengembangan layanan publik serta pembangunan kawasan, mulai transportasi, infrastruktur, teknologi komunikasi, irigasi, zonasi, drainase, hingga energi.
Desa cerdas juga bertujuan untuk mewujudkan kebutuhan demokratisasi di wilayah desa. Peran aktif warga dalam membangun desa akan meminimalkan kecenderungan terjadinya kekuasaan yang terpusat. Selain itu, sebagai stakeholder, warga bisa berperan secara maksimal untuk berpartisipasi dalam setiap proses yang terjadi dalam tata pemerintahan.
Sebagai tahap awal membangun desa yang cerdas, ada beberapa aspek utama yang wajib dipenuhi dan dioptimalkan, antara lain:
Program desa cerdas sejatinya merupakan langkah penting dalam mewujudkan akselerasi pembangunan desa melalui peningkatan kesejahteraan, kecerdasan, serta keharmonian warga lokal. Namun, tentunya harus disesuaikan dengan potensi dan keunikan desa masing-masing.
Secara umum, membangun desa yang cerdas dan berbasis teknologi ini membutuhkan enam pilar. Apa saja?
Smart village adalah salah satu upaya membangun Indonesia yang lebih mandiri. Pemerintah pun telah mencanangkan lima kegiatan utama yang mesti diwujudkan sesuai target, antara lain:
Duta digital merupakan pendamping teknis yang bertugas mendampingi serta mengawasi semua kader digital desa yang telah ditunjuk oleh Pemdes. Dengan periode kerja 2 tahun dan mencakup sekitar 5 desa, peran utamanya adalah mendorong literasi digital, mengembangkan ruang digital, serta memfasilitasi warga desa dalam berinovasi sesuai potensi desa.
Kegiatan ini berkomitmen penuh pada pendekatan pemerintah secara nasional, bekerja sama dengan para pihak terkait. Tujuannya adalah untuk memanfaatkan teknologi secara maksimal menuju transformasi desa.
Tujuannya adalah menciptakan Duta Digital profesional yang andal dalam menyiapkan masyarakat desa mampu secara cerdas, kreatif, inovatif, dan adaptif teknologi membangun potensi desa.
Pengembangannya penting untuk menciptakan ruang lingkup pembelajaran yang inovatif dan efisien. Jadi, ruang komunitas digital ini disediakan untuk warga belajar, melakukan diskusi, berinovasi, dan berkolaborasi menggunakan model operasional berkelanjutan.
Pemantauan dan evaluasi akan dilakukan untuk mewujudkan Desa Mandiri melalui enam pilar desa cerdas di atas.
Sebagai informasi tambahan, program smart village dimulai sejak 2020 dan ditargetkan akan selesai pada 2024 dengan jumlah target 3.000 desa cerdas. Meski fokus pada digitalisasi dan mengandalkan internet of things (IoT), program ini tetap harus dikembangkan selaras budaya dan tradisi desa.
Kita hidup dalam zaman yang dinamis dan penuh dengan perubahan. Generasi kita, anak-anak muda masa kini, adalah saksi dari pergeseran besar dalam perkembangan teknologi dan cara kita hidup. Salah satu fenomena menarik yang patut kita perhatikan adalah era Society 5.0.
Society 5.0 adalah konsep yang lahir dari Jepang dan mencerminkan tahap evolusi masyarakat berdasarkan peran teknologi. Kita telah melalui beberapa era sebelumnya, seperti Society 1.0 yang berfokus pada pertanian, Society 2.0 yang ditandai oleh revolusi industri, Society 3.0 dengan internet, dan Society 4.0 yang mengintegrasikan kecerdasan buatan dan teknologi canggih. (18/9/2023)
Namun, apa yang membedakan Society 5.0 adalah fokusnya pada kemanusiaan. Ini adalah era dimana teknologi seperti kecerdasan buatan, Internet of Things, dan big data digunakan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia dan menyelesaikan masalah sosial. Ini adalah perpaduan antara teknologi tinggi dan kepedulian terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
Misalnya, dalam Society 5.0, kita bisa melihat penggunaan kecerdasan buatan dalam bidang kesehatan. Robot medis yang dilengkapi dengan AI dapat membantu dalam prosedur bedah yang rumit, meningkatkan akurasi dan mengurangi risiko. Teknologi ini bukan hanya soal efisiensi, tetapi juga tentang menyelamatkan nyawa dan meningkatkan kualitas hidup.
Selain itu, Society 5.0 juga menekankan pada konsep “smart city”. Kota-kota cerdas ini menggunakan teknologi untuk mengelola sumber daya dengan lebih efisien, mengurangi emisi karbon, dan memberikan layanan publik yang lebih baik.
Secara lebih mendalam, Society 5.0 adalah tentang mengintegrasikan teknologi ke dalam kehidupan kita dengan cara yang lebih cerdas, manusiawi, dan berkelanjutan. Inilah beberapa aspek penting yang membedakan era ini:
Koneksi Tanpa Batas: Internet of Things (IoT) adalah inti dari Society 5.0. Ini mengacu pada jaringan perangkat dan objek yang saling terhubung dan dapat berkomunikasi dengan cerdas. Contohnya, rumah pintar yang dapat mengatur suhu, cahaya, dan keamanan dengan sendirinya berdasarkan preferensi dan kondisi kita.
Kecerdasan Buatan (AI): Teknologi AI digunakan untuk memahami data besar yang dihasilkan oleh IoT. Dalam konteks kesehatan, AI dapat menganalisis data medis pasien dan memberikan diagnosis yang lebih akurat dan cepat.
Industri 4.0: Society 5.0 juga mencakup konsep Industri 4.0, yang mengacu pada transformasi revolusi industri melalui otomatisasi, digitalisasi, dan integrasi data. Ini mengarah pada efisiensi yang lebih besar dalam produksi dan penggunaan sumber daya.
Kota Cerdas: Penerapan teknologi dalam pengelolaan perkotaan adalah salah satu fokus utama. Ini termasuk manajemen lalu lintas yang cerdas, penggunaan energi yang efisien, dan infrastruktur yang lebih berkelanjutan.
Masyarakat yang Terlibat: Society 5.0 mengharapkan partisipasi aktif masyarakat. Kita tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga berkontribusi dalam pengembangan solusi untuk masalah sosial melalui teknologi.
Meningkatkan Kualitas Hidup: Pada akhirnya, semua ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup kita. Contohnya, dalam pendidikan, teknologi dapat digunakan untuk memberikan akses ke pendidikan berkualitas bagi semua, tanpa memandang lokasi geografis atau latar belakang ekonomi.
Society 5.0 adalah gambaran masa depan di mana teknologi digunakan untuk memberikan solusi bagi masalah sosial, meningkatkan kualitas hidup kita, dan membawa dampak positif pada masyarakat secara keseluruhan. Bagi generasi muda, ini adalah tantangan dan peluang untuk berperan aktif dalam mengarahkan perjalanan masa depan ini.
Kelas X (TKJ 1,2 dan 3)
Seiring dengan meningkatnya teknologi dan gadget yang membuat maraknya belanja online, istilah e-business and e-commerce menjadi populer.
Semua ini tidak terlepas dari peran perusahaan startup yang berhasil mengembangkan platform e-commerce sehingga memudahkan pedagang da
![]() |
Banyak orang yang mengira bahwa e-business and e-commerce adalah hal yang sama, padahal keduanya adalah bidang yang berbeda.
E-commerce adalah wadah yang digunakan oleh penjual maupun pembeli dapat bertransaksi online secara daring tanpa harus bertemu muka. Namun sekarang tidak hanya kegiatan jual beli saja yang dapat dilakukan melalui internet, melainkan juga berbagai bisnis yang berbasis internet. Kegiatan bisnis tersebutlah yang kemudian lebih populer dengan istilah e-business, sehingga kedua hal tersebut mempunyai pengertian yang berbeda.
E-commerce sendiri merupakan segala jenis transaksi jual beli produk, jasa dan informasi yang dilakukan secara elektronik dengan bantuan jaringan internet. Karena dilakukan secara online maka dapat memangkas biaya transaksi yang diperlukan dan transaksi yang berlangsung dapat diintegrasikan sekaligus. Salah satu contohnya adalah pencatatan dan bukti transaksi yang dapat terintegrasi secara otomatis ketika transaksi terjadi. Sementara e-business adalah segala aktivitas bisnis via media internet sebagai medium komunikasi dan transaksi. Dapat dikatakan bahwa e-business ini memiliki unsur yang serupa dengan bisnis yang lain, hanya saja semua aktivitasnya dikerjakan dengan basis internet. Sebagaimana pernyataan dari Charles R.Rieger dari IBM, e-business menawarkan 5 keuntungan yang berkaitan dengan aspek efisiensi, efektivitas, jangkauan, struktur dan peluang.
Dari pengertian dasar diatas dapat dilihat sekilas mengenai perbedaan e-business and e-commerce, namun agar lebih jelas simak uraian berikut:
Diketahui bahwa e-business mempunyai scope atau cakupan yang lebih luas jika dibandingkan dengan e-commerce. Diantaranya SDM, modal, segala proses pemasaran jasa dan produk serta resiko yang mungkin timbul setelah setelah pembelian barang maupun jasa. Sementara e-commerce hanya berkutat di seputar proses jual beli produk atau jasa melalui media situs website atau aplikasi pada smartphone.
Lingkup e-business sendiri mempunyai peran edukasi kepada pelanggan sehingga mengetahui nilai guna sebuah produk ataupun jasa dari sebuah transaksi online. Ruang lingkup e-commerce sebatas media transaksi jual beli secara online saja, sehingga dapat dikatakan bahwa lingkup e-commerce bagian dari e-business E-commerce merupakan satu potongan kecil dari e-business yang memiliki fokus pada jual beli secara online.
Sistem yang berlangsung pada e-business menyasar setiap bagian dari hulu hingga hilir sebuah bisnis secara menyeluruh. Sementara e-commerce lebih condong pada analisis performa jual beli yang diatur dalam periode tertentu.
Orientasi
Orientasi E-commerce pada transaksi perolehan uang yang didalamnya terjadi pertukaran uang dan barang. Sementara itu orientasi dari e-business sendiri adalah kepentingan jangka panjang yang bersifat abstrak. Sebagai contoh adalah peraturan kerja, kepercayaan dan pelayanan terhadap konsumen, relasi antar mitra bisnis dll.
Singkatnya aktivitas e-commerce adalah kegiatan yang menggunakan internet melalui platform web atau aplikasi saat melakukan transaksi bisnis. Dalam transaksi tersebut, penjual pembeli individu ataupun tingkat perusahaan dapat saling terhubung. Sementara pada e-business, terdapat proses bisnis secara digital yang meliputi berbagai lini dalam perusahaan.
Tujuannya adalah memberikan keleluasaan lebih dalam proses berjalannya bisnis daripada sistem konvensional.
Contoh
Berikut ini sejumlah contoh untuk lebih memahami e-business : E-mail Marketing, Sistem Online untuk Internal Perusahaan, Sistem Manajemen Konten, Sistem Online Manajemen SDM. Sedangkan, Contoh e-commerce yang paling mudah ditemukan adalah marketplace, seperti Tokopedia, Shopee, Lazada, Traveloka, dan sebagainya.
Diantaranya seperti keuangan, bidang SDM, logistik, dsb, Anda dapat mempelajari lebih dalam di Telkom University yang terkenal maju teknologinya. Sehingga Anda akan lebih paham mengenai e-business and e-commerce dengan lebih detail lagi.
Internet untuk Segala (IoT) mengintegrasikan “segala hal” setiap hari dengan internet. Rekayasawan Komputer telah menambahkan sensor dan prosesor ke benda sehari-hari sejak 90-an. Namun, kemajuan awalnya lambat karena cipnya besar dan memakan banyak tempat. Cip komputer berdaya rendah yang disebut tanda RFID pertama kali digunakan untuk melacak perlengkapan mahal. Karena menyusutnya ukuran perangkat komputer, cip ini juga semakin kecil, cepat, dan pintar dari waktu ke waktu.
Biaya mengintegrasikan kekuatan komputasi ke dalam benda kecil sekarang jauh berkurang. Misalnya, Anda dapat menambahkan konektivitas dengan kemampuan layanan suara Alexa ke MCU dengan RAM tersemat kurang dari 1 MB, seperti sakelar lampu. Seluruh industri telah tumbuh dengan fokus memenuhi rumah, bisnis, dan kantor kita dengan perangkat IoT. Objek pintar ini dapat secara otomatis mengirimkan data ke dan dari internet. Semua “perangkat komputasi tidak terlihat” ini dan teknologi yang terkait dengannya secara bersama-sama disebut sebagai Internet untuk Segala (IoT).
Tugas
Gambarkan IOT masa depan dalam bidang teknologi
Peluang jurusan TKJ
Penulis herodia m S.kom
Begitu pentingnya teknologi membuat prospek pendidikan dan pekerjaan yang berkaitan dengan teknologi semakin cerah. Salah satu bagian dari pekerjaan berbasis teknologi yang harus Anda ketahui adalah technopreneur.
Apa itu technopreneur? Nah, di sini akan kita ulas mengenai pengertian technopreneur beserta contoh dan peluang kariernya di masa mendatang.
Dijelaskan dalam buku pengantar Technopreneurship yang disusun Lembaga Pengembangan Pendidikan, Kemahasiswaan dan Hubungan Alumni (LP2KHA) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, technopreneur berasal dari gabungan dua kata, yaitu technology dan entrepreneur.
Technology atau yang dalam bahasa Indonesia berarti teknologi merujuk pada penerapan praktis ilmu pengetahuan ke dunia industri atau sebagai kerangka pengetahuan yang digunakan untuk menciptakan alat-alat, mengembangkan keahlian dan mengekstraksi materi guna memecahkan persoalan yang ada.
Sedangkan entrepreneur merujuk pada seseorang atau agen yang menciptakan bisnis atau usaha dengan keberanian menanggung resiko dan ketidakpastian untuk mencapai keuntungan dan pertumbuhan dengan mengidentifikasi peluang-peluang.
Sehingga dapat diartikan bahwa technopreneur adalah orang yang mengkolaborasikan antara bidang usaha dan penerapan teknologi.
Kolaborasi itu bisa dalam bentuk instrumen pendukung maupun sebagai dasar dari usaha itu sendiri. Kolaborasi ini terjadi dalam proses, sistem, pihak yang terlibat, maupun produk yang dihasilkan.
Perbedaan antara technopreneurship dengan entrepreneurship adalah pada penggunaan teknologi.
Technopreneurship memiliki dua tugas utama, yaitu menjamin bahwa teknologi berfungsi sesuai kebutuhan pelanggan dan teknologi tersebut dapat menghasilkan keuntungan. Sementara entrepreneurship hanya berhubungan dengan menjual sesuatu untuk mendapatkan keuntungan.
Technopreneur harus bisa menjawab tantangan zaman dengan memanfaatkan teknologi. Melalui penguasaan teknologi, seorang technopreneur harus dapat melakukan beberapa hal di bawah ini:
1. Mengidentifikasi dan mengevaluasi peluang pasar
2. Menemukan solusi-solusi untuk mengisi peluang pasar tersebut
3. Memperoleh sumber daya yang diperlukan, baik berupa uang, manusia, dan peralatan untuk menjalankan bisnis
4. Mengelola sumber daya dari tahap awal (start up) ke fase bertahan (survival) hingga fase pengembangan bisnis
5. Mengelola risiko-risiko
Tujuan dari technopreneur sebenarnya tidak jauh berbeda dari seorang entrepreneur. Berikut setidaknya ada tiga tujuan technopreneur dilansir dari situs Universitas Ciputra.
Seorang technopreneur membuat bisnis teknologi dengan cara memberikan solusi atas masalah yang ada. Mereka membantu masyarakat menyelesaikan masalah sehari-hari dengan memanfaatkan sumber daya yang ada di sekitarnya. Contohnya, ojek online yang memanfaatkan masyarakat sekitar sebagai mitra.
Technopreneur dapat membuka lapangan kerja untuk masyarakat, sehingga taraf kehidupan masyarakat juga meningkat.
Inilah yang membedakan technopreneur dengan entrepreneur. Technopreneur dapat mendorong perkembangan teknologi.
Munculnya banyak bisnis berbasis teknologi, membuat para pengusaha berlomba berinovasi membuat produk teknologi yang bisa membantu masyarakat.
Dilansir dari sis.binus.ac.id dan career.its.ac.id, beberapa usaha yang meliputi technopreneurship antara lain produksi alat berbasis teknologi, software, menciptakan layanan-layanan berbasis teknologi, hingga menciptakan media sosial.
Produksi peralatan teknologi ini antara lain pembuatan smartphone, gadget, laptop, dan alat teknologi canggih lainnya. Contoh technopreneur dalam bidang ini seperti Steve Jobs yang mendirikan Apple dan Elon Musk pendiri Tesla.
Tokoh technopreneur yang sukses dengan pembuatan software antara lain Bill Gates dengan perusahaan Microsoft. Produk dari Microsoft tentu banyak kita manfaatkan, seperti Microsoft Windows, Microsoft Word, Microsoft Power Point dan kini berkembang memproduksi hardware.
Salah satu bagian dari technopreneur adalah menciptakan media sosial seperti Mark Zuckerberg yang sukses dengan Facebook dan Instagram. Di Indonesia ada juga Andrew Darwis yang mendirikan Kaskus sebagai forum diskusi hingga jual beli.
Di Indonesia kita kenal sosok Nadiem Makarim yang sukses dengan mendirikan Gojek. Tak sekadar ojek online, Gojek juga memiliki layanan pesan antar makanan, hingga layanan untuk kegiatan sehari-hari. Ada juga Achmad Zaky pendiri Bukalapak dan Belva Devara yang mendirikan Ruangguru.
Dalam laman kominfo.go.id, disebutkan bahwa industri kreatif merupakan sektor dengan prospek cerah. Para lulusan di bidang teknologi, komunikasi dan informatika (ICT) berpotensi besar untuk mengembangkan ilmunya untuk berwirausaha atau menjadi technopreneur.
Technopreneur diharapkan mampu memberi nilai tambah pada sumber daya di sekitarnya yang minim atau bahkan tanpa sumber daya sehingga membuat peluang usaha yang besar.
Dengan demikian, technopreneur dapat membuka lapangan pekerjaan dan meningkatkan perekonomian masyarakat.
Dari penjelasan di atas, tentu kita sudah mengetahui gambaran mengenai technopreneur. Bagi kalian yang ingin menjadi technopreneur, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika membuat bisnis teknologi.
Berikut beberapa tips seperti dilansir dari buku pengantar Technopreneurship ITS.
Demikian tadi ulasan mengenai technopreneur beserta contoh-contohnya dan bagaimana peluangnya di masa datang. Sekarang detikers siap jadi technopreneur? Semoga sukses ya.
Iklan - Gulir ke Bawah untuk melajutkan Iklan Berlangganan Masuk Negara-negara Islam Berkolaborasi dalam Pengembangan Kecerdasan Buatan Ne...